NAMA : LUSIA SIAGIAN
JURUSAN : AKUTANSI
KELAS : PAGI
MATA KULIAH :PENDIDIKAN AGAMA DAN ASH SKILL
SEJARAH AWALNYA MASUKNYA KRISTEN KE INDONESIA
Agama Kristen adalah agama dengan jumlah pemeluk terbanyak di dunia.
Tak hanya tersebar di benua Eropa yang menjadi awal mula perkembangannya, Agama Kristen tersebar jauh menjadi mayoritas di benua Amerika, Afrika bagian selatan, tersebar pula ke benua Asia dan Australia hingga ke Indonesia. Lantas, sejak kapan Kristen mulai muncul di Indonesia?
Banyak sejarawan beranggapan, Agama Kristen masuk bersamaan dengan masuknya para pedagang Eropa, baik dari Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Jika kita belajar sejarah di bangku sekolah dulu, kita pasti ingat mengenai semboyan 3G yang didengungkan para pelayar Eropa di tanah baru yakni Gold, Gospel, dan Glory.
Semangat Gospel dari para penjelajah Eropa
Diantara semboyan itu, Gospel merupakan seruan untuk menyebarkan ajaran mereka, dalam hal ini kristen di tanah baru. Ribuan misionaris pun turut serta dalam setiap pelayaran. Salah satu misonaris yang terkenal dalam menyebarkan Kristen di Nusantara adalah Fransiscus Xaverius. Zendeling Katolik dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis ini menjadi pelopor penyebaran Katolik di Indonesia, terutama di bagian timur seperti Kepulauan Maluku dan sekitarnya.
Kedatangan misionaris ini ke wilayah timur Indonesia merupakan mandat dari Paus Alexander VI. Dalam Perjanjian Tordessilas, dunia di luar Eropa dibagi rata antara Portugis dan Spanyol, dua kekuatan besar kala itu. Sayang, keduanya bertemu di Maluku dan sempat mengalami beberapa kali pertikaian sebelum diselesaikan melalui Perjanjian Saragossa.
Keduanya pun tetap bisa meraup rempah-rempah di tanah Maluku. Pada perjalananan selanjutnya, Spanyol lebih memilih bermigrasi ke suatu wilayah di bagian utara Maluku yang kini menjadi negara dengan penduduk mayoritas beragama Katolik, Filipina.
Dominasi Portugis membuat agama Kristen menyebar luas
Portugis pun cukup aman bermain rempah-rempah di Maluku setelah sebelumnya berhasil menaklukkan Kerajaan Islam di Malaka. Ada kisah yang belum banyak diketahui orang yakni jalur pelayaran ke Maluku ternyata dirahasiakan oleh Portugis. Inilah alasan mengapa pada sekitar abad ke-16, dominasi Portugis begitu hebat di wilayah Nusantara. Kalau kita mengingat pelajaran sejarah dulu, ada beberapa raja Kerajaan Islam yang cukup gigih melawan Portugis, salah satunya adalah Pati Unus, yang dikenal dengan Pangeran Sabrang Lor. Lantas, ke manakah Belanda?
Belanda baru bisa datang ke Nusantara setelah salah seorang pengelana dan pedagang Belanda bernama Jan Huygen van Linshoten membuat buku perjalanannya berjudul Itinerario, atau sering diucapkan para travel blogger sebagai Itinerary. Buku ini menyingkap bagaimana cara menuju Nusantara dari Eropa yang saat itu hanya diketahui Portugis. Berkat buku ini, ekspansi perusahan dagang Belanda ke wilayah nusantara pun mulai dilakukan, salah satunya adalah eksepedisi terkenal yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada 1596 di Banten.
Meski gagal, Belanda tak menyerah. Berkali-kali ekspedisi dikirim. Hingga akhirnya, setelah mendapat simpati dari penguasa Kerajaan Banten yang akhirnya membabat habis kerajaan itu menjadi tanpa daya, Belanda bisa menancapkan kuku di Nusantara melalui kongsi dagangnya yang kita hafalkan dulu : VOC. Dari kisah ekspedisi Belanda ini ada satu pelajaran penting mengenai bergunanya catatan perjalanan ke sebuah tempat agar tak hilang begitu saja di telan bumi. Itulah alasan mengapa menulis sangat penting, seperti menulis di blog.
Kejayaan VOC turut menjadikan penyebaran Kristen Protestan di Indonesia semakin berkembang pesat. VOC mendukung penyebar Protestan mengambil alih jemaah Katolik yang ada di kawasan Indonesia Timur, seperti Maluku. Protestan menjadi anak emas VOC dan mengalami masa kejayaan. Sementara, agama Katolik yang lebih dulu mendominasi wilayah Indonesia Timur harus terdesak dan menyisakan wilayah NTT dan Timor Leste sebagai basis utamanya.
Hipotesis agama Kristen Sudah Ada Sejak Zaman Barus dan Majapahit
Sebagian besar sejarawan memang meyakini bahwa agama Kristen masuk bersamaan dengan masuknya para pedagang Eropa. Hal ini paralel dengan pendapat mengenai teori masuknya agama Islam yang bersamaan dengan kedatangan pedagang dari Persia, Arab,dan Gujarat. Namun, ada seorang peneliti yang menulis di Majalah Basis pada tahun 1969 bernama J. Bakker SJ berpendapat lain.
Ia menyanggah teori masuknya agama Kristen yang mengikuti kedatangan bangsa Eropa dengan semboyan 3G-nya. Bakker berpendapat bahwa sebenarnya Kristen sudah ada di Indonesia sejak abad ke-7
Yang menarik, anggapan ini ia dasarkan pada sumber Islam, yakni pada sebuah tulisan Syaikh Abu Salih Armini, seorang sejarawan Muslim. Sejarawan Muslim ini menulis sebuah ensiklopedi berjudul Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana’is w’al-Adyar min Nawahin Misri w’al Iqtha’aihu. Esiklopedi ini memuat daftar gereja yang berada di Mesir dan wilayah Timur lainnya.
Informasi dalam laman Wikipedia menyebutkan gereja di wilayah ini sering disebut sebagai Gereja Nestorian*) oleh dunia Barat. Sebutan lain bagi gereja ini adalah Gereja Timur Asiria. Abu Salih menyebutkan bahwa pada abad ke-7, di daerah Fansur, yang terkenal dengan tempat asal Kamper sudah ada sekelompok orang Kristen Nestorian. Tak hanya itu, di sana sudah berdiri sebuah gereja yang dipersembahkan kepada Bunda Maria.
Bakker menggunakan catatan dari Abu Salih untuk mendukung teorinya, namun dengan beberapa koreksi.
Pertama, nama “Fansur” yang dimaksudkan merupakan “Pansur”Daerah ini berada di wilayah Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatra Utara. Kedua, bukan penganut Kristen Nestorian yang merupakan pendahulu agama Kristen di Fansur tadi melainkan penganut Kristen Universal (saat itu Kristen Katolik masih bersatu dengan Kristen Ortodoks dan Protestan sebelum skisma Timur-Barat 1054 dan reformasi Protestan abad ke-16).
Dasar hipotesis ini adalah pada persembahan kepada Bunda Maria tadi. Namun, tak ada informasi lain mengenai jejak Kristen di Indonesia pada abad ke-7 selain catatan Abu Salih ini. Beberapa pendapat juga menyatakan bahwa Agama Kristen masuk lebih dulu daripada Agama Islam yang juga diduga dimulai dari daerah bernama Fansur.
Sayang, bukti yang kuat mengenai pendapat ini masih belum tampak. Ada beberapa hal yang diperdebatkan dalam catatan Abu Salih tadi. Kata “Fansur” yang dimaksud lebih dekat dengan kata “Mansur”, sebuah negara di barat laut India Kuno yang terletak di sekitar sungai Indus. Negara ini sangat terkenal akan komoditas Kamper yang sering dibeli oleh orang Arab. Pendapat ini didukung oleh Adolf Heuken SJ dalam tulisannya berjudul “Christianity in Pre-Colonial Indonesia”.
Hauken mengutip catatan AJ Butler MA, seorang ahli literasi yang mengoreksi alih bahasa karya Abu Salih ke dalam bahasa Inggris yang berjudul The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Salih, The Armenian. Penerjamahan catatan Abu Salih ini dilakukan oleh BTA Evettes, seorang sejarawan Inggris yang giat melakukan studi tentang Kristen di tanah Arab, terutama Kristen Koptik. Kurangnya bukti sejarah, terutama bukti arkeologis yang kuat menyebabkan pendapat tentang masuknya agama Kristen pada abad ke-7 masih perlu dikaji ulang.
![]() |
| Peta kecamatan Barus di Kab. Tapanuli Tengah, Sumut. Barus sendiri masih menjadi misteri bagi para sejarawan karena diduga merupakan pusat kebudayaan pada masa lampau (Wikipedia). |
Kristen mulai ada pada abad ke-13 hingga ke-14 Masehi
Selain pada masa abad ke-7, ada pendapat lagi yang mengatakan bahwa agama Kristen di Indonesia sudah ada sejak sekitar abad ke-13 hingga abad ke-14 Masehi. Catatan ini berasal dari uskup Nestorian Ebedjesus dari Nibisis (1291-1319). Uskup Ebedjusus menyebut bahwa ada wilayah di Indonesia yang masuk dalam wilayah keuskupannya, yakni daerah bernama Dabbagh. Daerah ini dikenal sebagai wilayah Sumatra atau Jawa. Tiga orang uskup pada tahun 1503 ditasbihkan oleh Elias V untuk melakukan penginjilan di Dabbagh dan ke Sin – Masin (Tiongkok).
Tak hanya itu, pada masa Pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggaldewi, salah satu pemimpin Majapahit saat kemunculan Patih Gajah Mada, seorang pendeta dari Florence, Italia bernama J. De Marignolli menemukan orang-orang Kristen saat perjalanan pulang dari Beijing. Saat itu, catatannya berada sekitar tahun 1347. Kemungkinan, orang-orang Kristen tersebut merupakan Kristen lokal.
Akhirnya, saya bisa membuat sebuah kesimpulan bahwa awal masuknya Agama Kristen di Indonesia juga masih misteri. Sama gelapnya dengan masuknya agama Hindu-Buddha dan Islam yang masih timbul aneka hipotesis. Berbagai pendapat telah terpaparkan. Yang pasti, dengan populasi sekitar 10% dari total penduduk Indonesia, umat Kristiani adalah bagian dari bangsa Indonesia.



Komentar
Posting Komentar